Pesan Kyai Asrori Al Ishaqi tentang Bahaya Penyakit Hati 1

Manusia diciptakan untuk beribadah dan menyembah Allah. Dalam upayanya sebagai makhluk yang taat kepada Sang Pencipta, insan manusia berusaha berbuat kebaikan dan membekali dirinya dengan berbagai cara. Namun jika salah niat dalam berbuat kebaikan, maka akan menyebabkan penyakit hati. Kyai Asrori Al Ishaqi berpesan melalui salah satu ceramah dalam sebuah kesempatan di hadapan jamaahnya.

Orang yang rawan diserang penyakit hati menurut ceramah Kyai Asrori Al Ishaqi adalah:

Orang Berilmu

Berilmu adalah sebuah kebaikan. Tetapi membanggakan pengetahuannya, mengagumi diri sendiri karena ilmu yang dimiliki adalah sebuah penyakit hati. Begitu juga ketika merasa sudah pandai dan berilmu kemudian merasa bosan untuk belajar dan menuntut ilmu.

Orang Beramal

Bahayanya orang yang rajin beramal itu ia merasa paling jago dan mampu melakukan amal ibadah sebaik-baiknya. Misalnya: ketika disapa “Apakah kamu sudah sholat? Lalu menjawab dengan nada bangga: “Sorry ya, aku doong pasti sudah duluan”

Orang Pintar

Kepandaian adalah suatu kebaikan. Wawasan luas adalah kelebihan. Namun meskipun diakui sebagai pakar tetapi tak mampu menjadikan kepandaiannya bermanfaat maka ilmu itu akan menjadi keburukan. Penyakit ini muncul pada orang-orang pintar yang mengaku memiliki banyak acuan dan rujukan ilmu atau pendapat dari berbagai ahli atau alim ulama. Namun ia tak mampu mengambil keputusan dan keyakinan jika ditanya tentang sesuatu berkaitan dengan keilmuan yang dimilikinya.

Orang Ma’rifat’

Ma’rifat adalah bagian dari ilmu tasawuf agar seorang manusia mengenal Allah lebih dekat. Namun hal ini bisa menjadi penyakit hati ketika niatnya hanya ingin menonjolkan diri. Ibaratnya lupa bahwa segala yang ada pada manusia termasuk ilmu adalah hiasan belaka dan menjadi ujian baginya.
Orang yang senang menghias, memoles diri dengan kepalsuan ada tiga jenis:

  • Menghias diri dengan ilmu, tampak sangat alim dan hebat tapi sejatinya ilmu tersebut hanya sebagai alat untuk menutupi hawa nafsunya
  • Menghias diri dengan amal, namun bukan karena Allah. Ketika beribadah sendirian ia berlaku semaunya, tetapi ketika berada di tengah jamaah ia berusaha berperilaku sebaik-baiknya
  • Menghias diri dengan meninggalkan hiasan dzahir. Seolah-olah sama sekali tak tertarik dengan urusan duniawi, sehingga berlebih-lebihan dan terlalu khawatir. Berhati-hatilah, jika lisan menyebut nama Allah, memohon ampunan namun di dalam hati bertentangan maka itu sama halnya dengan ketidakjujuran.

Orang Cinta

Cinta adalah kebaikan. Bahayanya cinta adalah melakukan hal-hal yang dilarang Allah dengan alasan karena cinta.

Orang Tawadhu’

Tawadhu’ dan rendah hati itu baik. Namun terlalu rendah hati bisa menjadikan dirinya rendah diri. Hal inilah yang menjadi penyakit hati karena bisa saja ia memandang dan menghormati seseorang karena pangkat dan kedudukan, lupa bahwa segala sesuatu datang sebagai pemberian Allah.

Orang Sabar

Sabar itu baik. Namun bersabar bisa menjadi keburukan jika di balik kesabarannya seseorang malah lebih banyak mengadu pada orang lain. Contohnya seseorang yang sabar dengan kemiskinannya, tetapi ia malah mengumbar kesulitan-kesulitan hidupnya dengan berharap belas kasihan dari orang lain atas kesabaran dirinya menghadapi ujian hidup seberat itu.

Orang Pasrah

Pasrah itu baik. Apalagi setelah berikhtiar. Tetapi pasrah 100% kepada sesama manusia tidak diperbolehkan. Seorang santri atau jamaah menyatakan pasrah sepenuhnya ‘’apa kata sang kyai’’ bisa menjadi sumber bahaya. Sebagai insan yang berakal dan berilmu, kita hendaknya mampu menempatkan diri agar tidak pasrah sepenuhnya pada seseorang hingga tak mampu memilah baik buruknya

Orang Kaya

Kaya adalah suatu anugerah, keunggulan. Tetapi orang kaya juga mudah dihinggapi penyakit hati yaitu serakah. Ia tak mudah puas dengan kekayaan yang dimiliki. Ibaratnya sudah memiliki sepeda kayuh ingin punya motor. Sudah memiliki motor ingin punya mobil. Sudah memiliki mobil ingin pesawat jet pribadi.

Kyai Asrori Al Ishaqi dikenal sebagai salah satu ulama tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah yang cerdas dan rendah hati. Beliau juga sering melontarkan ceramah yang kritis sekaligus humoris. Pesan-pesannya sederhana namun mengena sehingga mudah dikenang sepanjang masa.