Mengelola Rasa Sedih 1

Sering banget kalau kita lagi sedih, ada orang bilang, “Sudah, enggak usah sedih. Kamu enggak boleh sedih, kamu harus kuat.” Ya kali, masa mau denial dengan rasa sedih? Kalau aku, aku lebih memilih untuk mengelola rasa sedih daripada denial dilarang bersedih.

Sedih itu manusiawi. Fitrah dasar manusia. Rasa yang sudah dikasih Robbuna untuk kita. Lazimnya rasa bahagia, senang, syukur, rasa sedih juga harus kita akui keberadaannya.

Masa yang harus dirasakan adalah rasa senang dan bahagia doang? Enggak lah. Sedih yang menghinggapi juga berhak untuk dirasakan. Its okay untuk tidak merasa baik-baik saja. Its okat untuk merasa sedang tidak baik-baik saja. Its okay merasa sedih atas apa yang menimpa kita.

Its okay, Dear.

Then, jika sedih itu memang dari sononya. Memang fitrah yang muncul ketika kita menghadapi suasana yang tidak sesuai harapan. Bagaimana mengekspresikan rasa sedih adalah sebuah pilihan.

Apakah kita mau mengekspressikan rasa sedih dengan menangis sesunggukan di balik bantal. Menangis di bawah cucuran air shower. Menekan dada kuat-kuat. Mengambil nafas dalam-dalam. Lalu menyalurkannya pelan-pelan melalui sujud panjang.

Apakah kita mau mengambil air wudhu, menumpahkan sedih yang mengungkung di atas hamparan sajadah. Berharap Ia yang maha Kuasa mengobati hati yang tengah lara.

Apakah kita mau mencari pelukan Ibu. Menumpahkan luka yang ada di pundaknya. Mengumpulkan kekuatan dari segunung pinta-puja Ibu kepada sang Maha.

Apakah mau pergi ke pantai. Berendam di samudra yang seolah tak punya batas. Berjemur di bawah sinar mentari yang panas. Meluruhkannya pada keringat dan berjarap kesedihan larut bersama ombak.

Ini pilihan. Ambil mana yang paling pas untuk hati yang tengah lara. Ambil mana yang paling bisa menyalurkan rasa sedih dengan tuntas~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *