Mengapa Anak Seorang Kyai Alim Bisa Menjadi Bebal & Bengal 1

Mengamati beberapa santri yang bebal dan yang bengal, salah satu guru kami jadi prihatin. Dalam hati beliau bertanya “Ada apa ini?, dulu orangtua mereka sewaktu mondok itu ‘kondang’ ilmunya, tapi kog anak-anak mereka ini, kalo ngga bebal atau bodoh ya nakalnya minta ampun.”
Berangkat dari keprihatinan melihat kondisi generasi kyai yang modelnya seperti di atas, guru kami ini pun menyelidiki, kenapa bisa muncul fenomena santri seperti itu?

Dan setelah investigasi, guru kami mempunyai kesimpulan; memang orang tua mereka ngalim-ngalim, dan ketika terjun di masyarakat pun rata² menjadi tokoh, tapi mereka sepertinya telah menyalahgunakan ilmu mereka, mereka tahu tentang aneka macam hukum dan berbagai perkhilafan ulama di dalamnya, lalu mereka memilah-milah yang paling ringan di antara hukum-hukum itu, dan mereka pun (seakan-akan atau memang) mengaplikasikannya untuk ‘ngakali’ syari’at.

Guru kami mencontohkan, ada yang jadi orang kaya, tapi lalu mereka menghilah/ menyiasati hukum, bagaimana caranya harta mereka tidak berkurang sebab zakat. Ada juga yang sudah mapan dan jadi kiyai di kampungnya tapi tega menggunakan qaul/ pendapat Ulama yang mengatakan bahwa guru ngaji itu termasuk golongan fisabilillah sehingga ia pun mengambil jatah zakat.
Mereka tidak sadar, atau bahkan mungkin sadar tapi acuh, kata guru kami, bahwa setiap qaul itu ada tempatnya, sehingga penerapan setiap qaul itu harus menimbang kemaslahatan, ada fikih prioritas.
Misalnya pada kasus kedua, guru saya dawuh, mereka tidak berfikir kalo sedang hidup di Indonesia yang masih terlalu banyak fakir miskinnya. Pendapat bahwa fisabilillah itu adalah semua sabilil khair, termasuk profesi da’i dan ustadz, itu seharusnya diterapkan di negara seperti Abu Dhabi, atau di negara yang rakyatnya mayoritas kaya raya hingga kesulitan mencari fakir miskin untuk diberi zakat. Di negara seperti ini pendapat ‘sabilillah adalah sabilil khair’ mungkin tepat untuk diambil. Tapi di Indonesia, pendapat ini tidak pas, karena fakir miskin berlimpah di sini. Maka jika ekonomi ustadz² itu sudah mapan ya jangan ikut rebutan dengan fakir miskin untuk mendapatkan harta zakat.
Ini belum lagi ketika harta zakat yang mereka terima itu tidak sesuai alokasinya sebagaimana ketentuan dalam postingan saya sebelumnya. Semisal harta itu ia gunakan untuk kebutuhan makan anak istrinya, padahal ia mengambil atas nama fisabilillah yang tasharruf harta zakatnya tidak boleh untuk keperluan pribadi, maka dengan itu berarti ia telah memberi makan anak istrinya dengan sesuatu yang bukan haknya.
Dan itulah akibatnya, anak mereka itu, jadi bebal, bodoh, nakal, dan sangat sulit menerima ilmu yang diajarkan Kyainya.

Akhirnya guru kami berpesan, “Hasil ijtihad para ulama yang menjadi qaul-qaul itu bukan untuk cari yang enteng² dan enak², tapi qaul itu selain sebab tuntutan dalil yang mereka pahami juga karena menimbang berbagai maslahat di daerah di mana ulama itu berijtihad. Jadi, qaul dloif itu kadang bisa jadi kuat karena maslahat.

Pengalaman dan penjelasan di atas disampaikan guru kami saat mengajar kitab Al Mahalli syarah Minhajut Thalibin.
Wa Allah ta’ala a’lam

-•×•-

Oleh Ahmad Atho