Memahami Level Shalih dan Mushlih 1

Menjadi orang shalih (orang baik) akan dicintai orang lain. Menjadi orang mushlih (orang yang memperbaiki) akan dimusuhi sebagian orang. Tahapan level shalih dan mushlih ini digambarkan dalam pesan Luqman Sang Filsuf pada putranya:

يَٰبُنَيَّ ‌أَقِمِ ‌ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ [لقمان: 17]

“Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.”

Melaksanakan shalat adalah representasi dari tindakan shalih. Ia mewakili ibadah-ibadah yang masuk dalam kategori hubungan pribadi seorang shalih dengan Tuhannya. Hubungan yang terjalin erat dengan Tuhan tidak hanya ditampakkan dengan ibadah semata namun juga terealisasi dalam tingkah laku yang menyejukkan serta bijak. Level ini adalah level dasar yang harus dibereskan terlebih dahulu. Apabila sukses di level ini, biasanya seorang shalih akan dianugerahi kharisma dan wibawa sehingga bukan saja dicintai tetapi juga disegani.

Setelah level shalih beres, maka selanjutnya melangkah ke level mushlih yang pertama, yakni mengajak orang lain berbuat baik. Mengajak berbuat baik tidak terlalu berat karena hanya sekedar ajakan yang bisa saja ditolak atau diabaikan. Orang yang diajak bisa jadi sedikit tidak nyaman, tapi tidak sampai terganggu.

Bila level mushlih yang pertama sukses, maka selanjutnya melangkah ke level mushlih yang kedua, yakni melarang orang lain melakukan keburukan. Saat itulah orang yang dilarang akan benar-benar terganggu dan memusuhi. Karena itulah, Luqman kemudian berpesan agar sabar. Sabar di sini maksudnya bukan diam tak berdaya cuma bisa nangis di pojokan, melainkan teguh pendirian dan pantang menyerah menjalankan misi menjadi agen yang mushlih sebab misi ini adalah sangat penting.

Oleh Abdul Wahab Ahmad