Hukum Membaca Al-Qur'an dengan Langgam Jawa 1

Barusan rumah saya kedatangan Mas ARull AS untuk wawancara tentang penggunaan Langgam Jawa untuk membaca al-Qur’an. Beliau sendiri adalah salah satu praktisi qira’at dengan langgam jawa. Poin wawancaranya saya kira layak ditulis di sini sebagai bahan untuk didiskusikan.

Inti pemaparan saya adalah patokan utama dalam membaca al-Qur’an adalah soal ketepatan dalam membunyikan huruf-huruf yang tertulis dalam mushaf sebagaimana cara orang Arab mengucapkannya. Aturan ketepatan ini terdapat dalam ilmu tajwid. Selain itu, kita diperintah untuk membaca al-Qur’an dengan suara yang jelas dan paling baik yang kita punya. Tiap orang mempunyai karakter suara yang berbeda dari yang merdu hingga tidak enak. Tetapi, semua orang mempunyai versi terbaik dari suaranya masing-masing, yakni versi yang tidak sengau, tidak parau, tidak seperti orang ngantuk dan sebagainya. Karena hal ini diatur oleh syariat (hadis), maka hal ini adalah ranah syariat yang mau tidak mau harus diikuti dalam membaca al-Qur’an.

Adapun soal irama membaca al-Qur’an, maka ini wilayah adat atau tradisi. Syariat tidak mengatur wilayah ini sehingga dibebaskan bagi siapa pun berkreasi sepanjang tidak melabrak satu pun aturan dari wilayah syariat. Dalam proses kreasinya, muncullah tujuh maqamat atau tujuh lagu standar dalam membaca al-Qur’an seperti Rast, Nahawand, Bayati dan seterusnya yang kita kenal saat ini di dunia seni qira’at. Itu semua adalah bid’ah hasanah yang muncul belakangan seiring tradisi lagu orang Arab. Kata yang ahli soal ini, Umi Kultsum dalam beberapa lagunya juga memakai irama lagu-lagu tersebut yang membuktikan bahwa itu memang bagian dari tradisi lagu Arab, bukan sesuatu yang khas milik al-Qur’an saja. Lagu yang yang berjudul “Huwa shahih al-Hawa” memakai irama Shaba dan lagu “Darat al-Ayyam” memakai irama Nahawand.

Sampai poin ini, ketika sekarang muncul lagu lain yang iramanya khas jawa, maka tentu tidak masalah. Sama sekali tidak ada dalil bahwa lagu yang boleh digunakan untuk membaca al-Qur’an hanya tujuh jenis sedangkan yang lainnya haram. Kalau berbicara soal bid’ah, maka ketujuh lagu itu juga bid’ah, hanya saja bid’ah hasanah. Bila tentang unsur musiknya, maka lagu yang tujuh juga sama lagu untuk musik. Coba dicek di youtube banyak sekali irama tujuh lagu qira’at itu diperagakan dengan media piano, biola atau alat musik lain.

Ini ketika kita mengikuti pendapat yang menganggap melagukan al-Qur’an dengan irama-irama tersebut sebagai sebuah kebaikan karena dianggap lebih meresap di hati pendengar. Adapun bila kita mengikuti pendapat para ulama yang melarang penggunaan irama apa pun yang tidak natural yang harus dipelajari dalam kelas-kelas, maka tentu baik langgam jawa atau pun tujuh lagu qira’at standar juga sama tidak bolehnya. Bagi ulama yang ketat ini, bacaan yang baik adalah bacaan dengan suara terbaik yang dimiliki, yang jelas tetapi natural tidak dibuat-buat dan tanpa kaidah tertentu yang harus dipenuhi oleh irama tersebut. Saya pribadi termasuk yang lebih suka bacaan yang natural tersebut karena tidak terkesan dibuat-buat. Anda boleh berbeda selera tentunya.

Berikut ini adalah bacaan Mas Arull dengan langgam Jawa yang menarik didengarkan. Saya merekamnya pakai hape barusan. Enak juga saya kira irama ini.

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10208696216799010&id=1718970307