Begini Cara Memahami Makna Allah Tidak Bertempat 1

Asy’ariyah berkata bahwa Allah tidak bertempat. Dengan kata lain, wujud Allah tanpa ada tempatnya, artinya:

  1. Tidak ada tempat yang melingkupi Allah. Untuk mempermudah, dalam kasus manusia seperti orang dalam rumah. Rumah melingkupi orang tersebut dari berbagai arah tetapi tidak menyentuh jasadnya. Yang disentuh hanya lantainya saja. Bila ditanya di mana tempat orang itu, dapat dijawab: “di rumah”.
  2. Tidak ada tempat yang menopang wujud Allah dari bawah. Untuk mempermudah, dalam kasus manusia seperti orang yang berdiri di lapangan. Lapangan tidak melingkupi manusia, tetapi menopang keberadaannya dari arah bawah. Bila ditanya di mana tempat orang itu, dapat dijawab: “di lapangan”.
  3. Tidak ada tempat yang membungkus wujud Allah dari segala sisi. Untuk mempermudah, dalam kasus manusia seperti udara yang membungkus Superman yang sedang terbang di atmosfer atau seperti ruang hampa yang membungkus Superman yang terbang di luar angkasa. Superman yang terbang tidak menyentuh benda apa pun namun wujudnya dibungkus ruang yang mengelilinginya, baik berupa udara atau pun hampa udara. Bila ditanya di mana tempat superman waktu terbang, dapat dijawab: “di udara” atau “di luar angkasa”.

Pembahasan ini sebenarnya cukup rumit apabila memakai diksi resmi dalam kitab-kitab ilmu kalam. Namun saya harap permisalan dan penyederhanaan di atas cukup jelas dipahami. Anda bisa membandingkan dengan penjelasan saya dalam bentuk video di channel youtube “Gus Wahab” apabila ingin menyimak versi mutakallimin yang lebih resmi dan sedikit rumit namun saya permudah dengan bantuan gambar.

Bila konsep tidak bertempatnya Allah ini dipahami dengan baik, maka perlu diketahui bahwa seluruh aliran dalam islam, baik Ahlussunnah wal Jamaah (Asy’ariyah-Maturidiyah) atau pun ahli bid’ah bahkan kalangan filsuf, semua sepakat akan hal ini kecuali satu golongan saja yaitu Mujassimah. Seperti biasa, golongan satu ini selalu bangga keluar dari akal sehat.

Lalu bagaimana dengan Taymiyun? Sebagaimana dimaklumi, mereka selalu berupaya menolak kredo bahwa Allah tidak bertempat. Mereka seolah tidak enak badan ketika mendengar kalimat “Allah tidak bertempat” bila mereka tidak memperinci dan menjelaskannya panjang lebar terlebih dahulu. Bahkan saking panjangnya hingga ada perincian yang tidak relevan sama sekali dengan topik bertempat. Contoh perincian yang tidak relevan adalah pernyataan seperti: “Bila yang dimaksud bertempat adalah menyerupai makhluk, maka jelas Allah tidak bertempat”. Menyerupai makhluk adalah satu hal, sedangkan bertempat adalah hal lain yang tidak terkait sehingga aneh bila dikaitkan dalam satu kalimat. Sama seperti tidak relevannya perkataan: “Bila bertempat adalah tempe goreng, maka Allah bukan tempe goreng”, tidak nyambung sama sekali meskipun isinya benar.

Bila dicermati dengan seksama, akan diketahui bahwa inti dari penjelasan dan perincian para Taymiyun tersebut akhirnya akan sampai pada satu titik yaitu: Di atas Arasy bukanlah tempat tetapi suatu ketiadaan (amrun ‘adamiy). Maksud mereka, Arasy adalah makhluk tertinggi dalam semesta yang di atasnya sudah tidak ada apa-apa lagi sehingga di sana tidak bisa disebut tempat. Dengan kata lain, yang bertempat cuma makhluk yang semuanya di bawah Arasy sebab di atasnya tidak ada tempat. Lihat gambar kosmologi versi Taymiyun yang saya dapat dari salah satu komen mereka di Facebook ini. (Versi yang saya sertakan ini adalah salah satu versi yang bisa dibilang lumayan daripada versi kosmologi bumi datar mereka, meskipun tetap absurd).

Kita abaikan dulu beberapa ketidak-akuratan pemahaman Taymiyun tersebut seperti yang sudah saya bahas dalam beberapa kesempatan sejak beberapa tahun lalu. Yang jelas, kalau mereka konsisten dengan pemahaman itu, bukankah artinya sama dengan mengatakan bahwa Allah tak bertempat? Mereka berkata Allah di atas Arasy dan di atas Arasy bukanlah tempat sebab tidak ada apa-apa di sana, artinya adalah Allah tak bertempat.

Sebenarnya kalau mau berhenti di titik ini dan membuang fanatik buta, maka titik kesamaan para Taymiyun dengan Asya’irah sangat mudah ditemukan. Perbedaannya hanyalah soal redaksi di mana ada yang memilih jalur ringkas dan ada yang memilih jalur berbelit-belit.

Namun bila ada keterlibatan kebencian dan fanatisme buta sehingga Taymiyun garis keras ingin terus menebar hoax bahwa Asya’irah menolak sifat ‘uluw atau istiwa’, maka mau tidak mau para Taymiyun akan berada di posisi yang sama dengan para mujassimah dan berdalil dengan dalil-dalil irasional para mujassimah sebab hanya mujassimah yang betul-betul berbeda tentang topik ini. Silakan hal ini dibuktikan dengan membandingkan pernyataan para Taymiyun garis keras tersebut dengan belasan perbedaan pendapat di kalangan Mujassimah, pasti ada yang cocok salah satunya.

Semoga bermanfaat.

Penulis: Abdul Wahhab Ahmad