Apakah Seorang Ustadz Boleh Menerima Zakat? 1

Balaghah Al Qur’an Dalam Meredaksikan Para Mustahiq Zakat : Ustadz Boleh Menerima Zakat?

Para ulama berkata :
Allah ta’ala meredaksikan empat mustahiq pertama dalam Al Qur’an dengan menggunakan huruf Lam tamlik :
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya,”

Faedah penggunaan Lam tamlik adalah bahwa keempat golongan ini diberi hak milik atas harta zakat yang mereka terima, artinya mereka bisa menggunakan harta itu untuk apapun yang mereka inginkan, termasuk boleh mereka jual kembali semisal zakatnya berupa beras.

Sedangkan untuk empat golongan penerima zakat selanjutnya, dalam Al Qur’an mereka diredaksikan dengan menggunakan huruf Fi :
وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ
“Dan untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan,”

Faedah penggunaan huruf Fi ini adalah bahwa harta zakat yang diserahkan kepada empat golongan terakhir ini bukan untuk menjadi milik mereka pribadi, tapi untuk kemaslahatan yang berhubungan dengan sifat mereka mendapatkan harta zakat tersebut, yaitu untuk memerdekakan status budaknya, untuk menutup hutang, untuk keperluan di jalan Allah seperti beli senjata atau kendaraan perang, dan untuk biaya perjalanan hingga sampai tujuan saja. Dan apabila harta zakat yang diterima keempat golongan ini masih lebih setelah kebutuhan² itu tercukupi maka mereka wajib mengembalikan sisa harta zakat yang mereka terima tersebut, karena itu bukan milik mereka. Inilah Balaghah Al Qur’an, tidak ada satu huruf pun yang diletakkan di dalam Al Qur’an melainkan ada hikmahnya.

Dari Syarah Yaqutun Nafis, hal. 287

Jadi, jika ada orang yang mengikuti pendapat bahwa ustadz adalah termasuk golongan fi sabilillah, maka hendaknya ia juga mengetahui bahwa fi sabilillah dalam Al Qur’an adalah golongan kelompok kedua, yang redaksinya menggunakan huruf Fi. Artinya jika menerima harta zakat maka ia harus membelanjakannya untuk urusan keustadzan alias keperluan mengajar, bukan untuk keperluan rumah tangganya, apalagi buat beli baju lebaran. Dan jika harta zakatnya lebih maka harus dikembalikan ke Baitul Mal. Dan dalam masalah fi sabilillah ini dalam Syarah Yaqutun Nafis masih ada catatan lagi, yaitu jika perang sudah selesai maka alat² perang itu seharusnya dikembalikan ke Baitul Mal, maka seharusnya pun sama dalam hal ustadz fi sabilillah ini, jika si ustadz berhenti tidak mengajar lagi maka barang² atau alat² keustadzan yang dibeli dengan harta zakat itu seharusnya pun dikembalikan kepada Baitul Mal, tidak boleh dialihfungsikan untuk kebutuhan pribadi, karena ia tidak mempunyai hak milik atas barang tersebut, tapi hanya hak guna saja.
Wa Allah ta’ala a’lam

-•×•-

Oleh Ahmad Atho