Antara Cinta dan Benci

Antara cinta dan benci hanya setipis kulit ari. Dulunya aku enggak percaya, tetapi semakin bertambahnya umurku, cinta dan benci memang hanya setipis kulit ari. Perkaranya ada di waktu, apakah ada hal buruk yang membuat cinta beralih menjadi benci, ataukah ada hal baik yang membuat rasa benci pelan-pelan bergeser menjadi rasa cinta.

Kanjeng Rosul dhawuh,

Cintailah seseorang sewajarnya, sebab bisa saja engkau berbalik membencinya suatu hari nanti. Bencilah seseorang sewajarnya, sebab bisa saja ia menjadi orang yang kau cintai suatu hari nanti

(HR Tirmidzi)

Mencintai orang dengan sewajarnya, agar kelak suatu saat kita kecewa enggak terlalu dalam rasa sakitnya. Bencilah orang sewajarnya, agar kelak ketika kita tahu kebaikannya enggak terlalu dalam rasa penyesalan yang ada.

Manusia terus bertumbuh, berubah sepanjang watu. Barangkali hari ini kita mencintainya karena kebaikan-kebaikan yang ia lakukan, suatu saat manakala ia terpeleset dalam khilaf membuat kita kecewa. Jika cinta tidak terlalu dalam, kita bisa menyikapinya dengan biasa saja, tidak ada kebencian dan sakit yang menggerogoti hati.