11 Hal yang Perlu Kamu Ketahui Sebelum Melakukan Poligami 1

Sebab topik-topik poligami sedang berseliweran di beranda, saya tergelitik menulis juga tentang topik yang selalu menghebohkan ini. Bukan untuk membela atau menyudutkan, tapi untuk mendudukkannya sewajarnya.

  1. Poligami itu hukumnya mubah (boleh-boleh saja) sama persis dengan nambah makan sepiring lagi. Bukan sunnah apalagi wajib. Ini hukum asalnya yang berlaku dalam kondisi normal. Jadi jangan bawa-bawa kata sunnah kalau mau poligami dalam keadaan normal.
  2. Poligami itu bisa berubah menjadi haram, makruh, sunnah atau wajib seperti halnya tindakan lainnya. Hukumnya tergantung illat yang melatar belakanginya, konsekuensi yang mungkin ditimbulkannya dan kekuatan mental serta harta pelakunya.
  3. Adil itu bukan syarat poligami. Adil itu kewajiban yang melekat pada semua tindakan setiap saatnya. Adil adalah lawan kata dari dhalim. Sebab itu, monogami pun wajib adil. Bila istri tak diperlakukan adil, maka dosalah si suami, terserah ada satu atau berapa pun jumlah istrinya. Penyebutan kata adil dalam ayat poligami sebab tuntutan adil dalam konteks poligami memang lebih sulit.
  4. Sebaliknya, bila seorang istri tak memperlakukan suaminya secara adil, maka si istri itu melakukan kesalahan. Bila misalkan seorang istri tak dapat memenuhi syahwat suaminya sebab sakit atau apapun, maka tindakan memonopoli suami merupakan bentuk ketidak adilan bila si suami memang dikhawatirkan terjerumus dalam tindakan haram bila dimonopoli.
  5. Poligami itu wajib terang-terangan, tak boleh diam-diam sebab dengan diam-diam maka tak mungkin keadilan terwujud. Mungkin istri keduanya tak masalah diperlakukan tidak adil dalam hal jatah hari sebab takut dicela orang, tapi suami tetap wajib memberikan keadilan status baginya dan bagi anak-anaknya dari istri tersebut. Poligami sirri hanya akan menyebabkan hak-hak perdata istri kedua dan anak-anak yang dihasilkan dari pernikahan itu menghilang. Ini bentuk ketidakadilan yang nyata yang berat tanggung-jawabnya di akhirat. Bila nanti sang suami meninggal, lalu hartanya hanya dimonopoli keluarga istri pertama sebab mereka tak tahu ada keluarga lainnya yang juga berhak atas warisan suami, maka mereka memakan harta yang bukan haknya. Dosanya tentu ditanggung suami selaku aktor di balik kedhaliman itu.
  6. Poligami itu tak harus dengan janda, bahkan tak ada kesunnahan menikahi janda. Yang sunnah itu menikahi perawan, baik untuk istri ke berapa pun sebab inilah yang disarankan secara gamblang oleh Rasulullah. Adapun menikahi janda adalah bagian dari sunnah fi’liyah (tindakan Rasulullah) saja. Jenis sunnah fi’liyah ini macam-macam status hukumnya; ada yang wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram ditiru. Adapun soal menikahi janda, maka sudah jelas Nabi menegur sahabatnya yang memilih janda daripada perawan. Inilah saran beliau kepada umatnya sehingga keluarlah hukum sunnah.
  7. Pernikahan itu, baik yang pertama atau ke sekian, tak harus karena alasan ideal seperti mendapat keturunan, menjalankan sunnah dan sebagainya. Alasan “pengen enak” itu juga boleh dan absah sehingga jangan sampai disalahkan. Boleh saja seseorang berpoligami sebab tertarik secara fisik dan ingin menikmati versi selain istrinya. Ini dorongan yang tidak ideal itu betul, tetapi juga tak terlarang sebab salah satu alasan utama dari pernikahan memang tamattu’, bersenang-senang. Kalau satu hal ini tak bisa tercapai sebab si suami impoten atau istrinya buntu atau salah satunya punya penyakit menular sehingga tak bisa disentuh, maka ini aib yang bisa membatalkan pernikahan. Kalau satu hal yang berhubungan dengan naluri hewani ini sudah tak ada masalah, maka baru dibahas tujuan lainnya yang ideal dan mulia itu.
  8. Poligami itu menyakitkan istri pertama, itu pasti. Rasa sakit ini tidaklah berarti menjadikan poligami berstatus haram sebab dia merasa sakit atas hal di luar haknya. Seorang istri hanya berhak terhadap seperempat dari suaminya. Bila dikasih lebih bahkan sepenuhnya, maka itu nikmat yang wajib disyukuri. Tapi bila suami melakukan apa yang menjadi haknya dengan cara yang benar, maka dia harus menerima. Rasa sakit seperti ini seperti sakitnya tetangga ketika melihat orang di sebelah rumahnya membangun rumah yang lebih besar dari rumahnya, seperti sakitnya seorang pegawai yang tak suka melihat pegawai lainnya dipromosikan bosnya. Itu semua sakit hati yang tanpa hak.
  9. Sebab poligami itu mubah saja, maka siapapun yang akan melakukannya musti yakin bahwa hal mubah ini takkan membuatnya melakukan serangkaian hal haram di kemudian hari. Kalau tak hebat betul sebagai pria, janganlah blagu dengan mengoleksi wanita.
  10. Janganlah para istri terlalu baper mendengar suaminya berbicara poligami dengan kawan-kawannya sesama lelaki. Mereka hanya riuh membahas poligami sebab tak berani melakukannya. Biarlah mereka terhibur dengan membicarakannya daripada diam tapi melakukannya betulan. Faktanya, mereka yang gemar membicarakannya hampir seluruhnya tak pernah poligami seumur hidupnya. Sedangkan yang betul-betul melakukannya kebanyakan tak suka membahasnya, sebab takut ketemu.
  11. Para istri selalu dimadu oleh suaminya. Entah madunya itu berupa pekerjaan, anak-anak, hobby, urusan masyarakat atau kawan-kawannya. Semua itu memalingkan waktu bahkan hati suami dari istrinya untuk beberapa waktu tetapi sang suami selalu berlabuh kembali ke istrinya. Kalau hal seperti ini bisa direlakan, maka janganlah terlalu berlebihan ketika suaminya poligami. Anggap saja itu aktivitas lain seperti biasanya. Mungkin ini terlalu menyederhanakan masalah, tapi beginilah satu-satunya cara melawan rasa sakit itu sehingga responnya tetap dalam batas wajar. Biasanya, suami yang berpoligami akan merasa bersalah ketika melihat istrinya tegar melawan sakit. Tapi ketika istrinya meresponnya berlebihan, maka suami akan merasa bahwa keputusannya tepat dan dengan itulah ia mulai meraih simpati.

Semoga bermanfaat.

Oleh: Abdul Wahab Ahmad